JAKARTA, INDONESIA NEWS CHANEL – Menyongsong lima abad Jakarta sekaligus memperingati Bulan Bahasa Oktober 2026, budayawan Betawi Chairil Gibran Ramadhan menginisiasi gerakan “Bela Betawi Liwat Literasi” melalui Betawi Institute. Gerakan ini ditandai dengan penerbitan lima buku yang mengangkat sejarah, sastra, dan kebudayaan Betawi, Batavia, hingga Jakarta.
Program tersebut menjadi upaya mendokumentasikan warisan intelektual masyarakat Betawi dalam bentuk buku. Selain memperluas akses terhadap literatur kebetawian, gerakan ini juga berupaya meluruskan anggapan bahwa masyarakat Betawi hanya dikenal melalui tradisi lisan dan seni pertunjukan.
Dalam keterangan pers yang diterima Indonesia News Chanel, Senin (12/10/2026), Chairil Gibran Ramadhan, yang akrab disapa CGR, menegaskan bahwa membela Betawi tidak sebatas mempertahankan kesenian dan tradisi, tetapi juga menjaga harkat serta martabat masyarakat melalui karya tulis.
“Bela Betawi juga artinya membela harkat dan martabat Betawi melalui literasi. Ini terkait pendokumentasian dalam bentuk buku,” ujar pendiri Betawi Institute dan Poestaka Betawi tersebut.
Menurut CGR, literasi tidak seharusnya dimaknai secara sempit sebagai kegiatan membaca puisi atau penampilan sastra dalam acara seremonial. Lebih dari itu, literasi perlu diarahkan pada pengenalan sejarah, pendalaman kebudayaan, serta pendokumentasian pengetahuan agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ia menilai buku memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan pengetahuan lintas generasi. Karena itu, penerbitan karya bertema Betawi diharapkan menjadi salah satu langkah konkret untuk memperkuat posisi kebudayaan Betawi dalam khazanah literasi nasional.
“Buku menguasai ruang dan waktu atau scripta manent, verba volant. Insya Allah, yang kami lakukan ini berguna bagi Betawi dan Indonesia,” katanya.
Lima Buku Angkat Sejarah dan Sastra Betawi
Lima buku yang diterbitkan dalam gerakan tersebut mencakup tokoh, karya sastra, humor, serta kehidupan masyarakat Jakarta pada masa lalu.
Berikut judul buku yang diperkenalkan:
- “Seribu Tokoh Betawi: Jakarta dan Sekenanya”, ISBN 978-602-17963-8-2.
- “Hikayat Pesastra: Jakarta dan Sekenanya”, ISBN 978-602-17963-7-5.
- “Bang Jali Kondangan: Setangkle Sketsa Humor Betawi”, karya Aba Mardjani, ISBN 978-602-19280-4-2.
- “Keadjaiban di Pasar Senen: Sekumpulan Ceritera di Jakarta 1950–1960”, karya Misbach Yusa Biran, ISBN 978-602-1244-01-2.
- “Dajoeng Sampan Dibawah Boelan”, karya Chairil Gibran Ramadhan.
CGR berharap kelima buku tersebut dapat menjadi bagian dari koleksi perpustakaan kampus, instansi pemerintah, komunitas baca, hingga perwakilan diplomatik yang berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Menurutnya, pendokumentasian melalui buku merupakan bagian penting dari upaya menjaga ingatan kolektif masyarakat. Tanpa dokumentasi yang memadai, pemikiran, karya, dan perjalanan sejarah suatu kelompok masyarakat berisiko tidak dikenal secara utuh oleh generasi mendatang.
Soroti Minimnya Dukungan Gerakan Literasi Betawi
Di balik penerbitan lima buku tersebut, CGR juga menyoroti minimnya dukungan terhadap gerakan literasi yang secara khusus berfokus pada sejarah dan kebudayaan Betawi.
Ia menilai perhatian terhadap kebudayaan Betawi semestinya tidak berhenti pada kegiatan kesenian, festival, atau agenda seremonial. Menurutnya, diperlukan pula dukungan berkelanjutan terhadap penerbitan buku, penulisan sejarah, sayembara karya sastra, dan pemberian apresiasi kepada para penulis.
CGR mengungkapkan bahwa dirinya berharap muncul tokoh-tokoh Betawi yang bersedia memfasilitasi gerakan literasi, sebagaimana yang ia lihat dalam kiprah Richard Oh sebagai pelopor Khatulistiwa Literary Award dan Denny JA dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan penerbitan serta apresiasi karya tulis.
Namun, ia mengaku belum memperoleh tanggapan yang diharapkan dari sejumlah tokoh, politisi, dan kalangan yang dihubungi untuk mendukung gerakan tersebut.
Dalam keterangannya, CGR menyebut sejumlah nama, di antaranya Riano Purnonegoro, Nuroji, Setyoko, Firman Subagyo, Fahira Idris, serta beberapa anggota Betawi Academia. Ia juga menyampaikan bahwa komunikasi dengan Rano Karno, yang disebutnya dalam kapasitas sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, tidak mudah dilakukan.
Pernyataan tersebut merupakan pandangan dan pengalaman yang disampaikan CGR terkait upayanya menggalang dukungan. Belum adanya tanggapan yang ia harapkan, menurutnya, menjadi tantangan tersendiri dalam membangun gerakan literasi yang lebih luas.
Tradisi Tulisan Betawi Perlu Mendapat Tempat
CGR menegaskan bahwa masyarakat Betawi tidak hanya memiliki tradisi lisan yang kuat, tetapi juga mempunyai jejak panjang dalam tradisi tulis dan kesusastraan.
Sejumlah nama penulis berdarah Betawi maupun Peranakan-Betawi telah memberikan sumbangan bagi perkembangan sastra. Di antaranya Sapirin bin Usman al-Fadli, Muhammad Bakir, Ahmad Beramka, Abdullah bin Muhammad al-Misri, Ahmad Insab, Ahmed Mujarrab, Oom Piet, Tio Ie Soei, Kwee Kek Beng, Muhammad Balfas, SM Ardan, Firman Muntaco, serta N. Susy Aminah Aziz.
Sementara itu, dari generasi yang lebih dekat dengan masa kini, terdapat nama Aba Mardjani, Zeffry J. Alkatiri, dan Chairil Gibran Ramadhan.
CGR juga mengutip pandangan Ahmadun Yosi Herfanda, wartawan sekaligus sastrawan, dalam tulisan pengantar buku Kembang Goyang terbitan Padasan pada 2011. Tulisan tersebut menyoroti keberadaan para penulis berdarah Betawi atau Peranakan-Betawi yang karyanya turut hadir dalam perkembangan kesusastraan Indonesia.
Menurut CGR, jejak para penulis tersebut perlu terus dicatat dan diperkenalkan agar menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah sastra Indonesia, khususnya kesusastraan Betawi.
Ia berpandangan bahwa tradisi tulis Betawi selama ini cenderung berkembang melalui inisiatif individu, sementara dukungan kelembagaan dinilainya belum memadai.
Di sisi lain, masyarakat Betawi lebih sering diasosiasikan dengan kesenian seperti teater tradisional, pantun dalam prosesi palang pintu, musik gambang kromong, tari, silat, humor, dan kuliner.
CGR tidak menampik kekayaan tradisi tersebut. Namun, ia menilai pengenalan terhadap kebudayaan Betawi perlu diperluas dengan menampilkan kontribusi masyarakatnya dalam bidang pengetahuan, penulisan, dan kesusastraan.
“Adapun tradisi tulisan, hadir secara senyap melalui pejuang-pejuang tunggal, tanpa dukungan pemerintah dan lembaga-lembaga kebetawian,” paparnya.
Ia berharap gerakan “Bela Betawi Liwat Literasi” dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat dokumentasi sejarah dan budaya Betawi, sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi penulis serta karya sastra Betawi agar dikenal masyarakat Indonesia.
Melalui penerbitan lima buku tersebut, Betawi Institute mendorong agar pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui pertunjukan dan tradisi lisan, tetapi juga melalui karya tulis yang dapat dibaca, dikaji, dan diwariskan lintas generasi.
Penulis: Herman Syahara
Redaksi: Indonesia News Chanel







