JAKARTA – INDONESIA NEWS CHANEL — Penyair diminta tidak sekadar meniru gaya hidup “bohemian” ala Chairil Anwar, tetapi juga memahami kedalaman intelektual dan pencarian makna hidup yang melatarbelakangi karya-karyanya.
Hal tersebut disampaikan Ahmadun Yosif Herfanda dalam Orasi Sastra Perayaan Hari Puisi Nasional di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Kamis (30/4/2026).
“Kita, kebanyakan, hanya mencontoh gaya hidupnya yang cenderung bohemian. Padahal, di balik kebohemian itu ada sesuatu yang dicari, yang kemudian menjadi bermakna dan diolah menjadi puisi,” ungkapnya.
Menurut penulis puisi fenomenal Sembahyang Rumputan itu, jika penyair hanya meniru gaya hidup tanpa memahami makna intelektual di baliknya, maka besar kemungkinan akan tersesat dalam proses kreatif.
“Baru bisa menulis dua-tiga baris puitis, lalu merasa puas dan bersikap seperti Chairil Anwar,” ujarnya dalam makalah berjudul Dalam Sekat-Sekat Obsesi Kepenyairan.
Belajar dari Kedalaman Intelektual
Ahmadun menegaskan, mengenang Chairil Anwar seharusnya menjadi momentum untuk belajar, baik secara rohani maupun intelektual.
Ia menilai, kelemahan yang kerap muncul di kalangan penyair, termasuk generasi milenial, adalah kurangnya kemauan untuk belajar secara mendalam.
Padahal, dalam usia yang relatif singkat—27 tahun—Chairil Anwar mampu menuntaskan pencarian intelektualnya, terutama dalam bidang filsafat dan makna hidup, yang kemudian diolah menjadi karya-karya puisi unggul.
“Chairil membaca filsafat eksistensialisme dan karya-karya Rainer Maria Rilke, W. H. Auden, Archibald MacLeish, Hendrik Marsman, J. Slauerhoff, hingga Edgar du Perron,” jelasnya.
Dari berbagai bacaan tersebut, lanjut Ahmadun, Chairil mengolahnya menjadi energi kreatif yang melahirkan tonggak modernitas puisi Indonesia.
Meski demikian, ia mengaku masih menemukan sejumlah penyair muda dengan kualitas yang menjanjikan dan berpotensi menjadi andalan di masa depan.
Antara HPI dan HPN
Dalam orasinya, Ahmadun juga menyinggung posisinya terkait dua momentum sastra nasional, yakni Hari Puisi Indonesia (HPI) dan Hari Puisi Nasional (HPN).
Ia mengaku kerap mendapat pertanyaan terkait keterlibatannya di kedua forum tersebut, mengingat dirinya merupakan salah satu deklarator HPI sekaligus turut hadir dalam peringatan HPN.
“Saya tetap orang HPI. Saya pendiri dan konseptor HPI, dan saat ini sebagai pembina. Pada 26 Juli nanti, saya juga akan merayakan HPI,” tegasnya.
Menurutnya, tidak ada yang perlu diperdebatkan terkait keberadaan HPI dan HPN, karena keduanya sama-sama merayakan puisi dan berlandaskan sosok Chairil Anwar.
“HPI didasarkan pada hari kelahiran Chairil, 26 Juli, sementara HPN pada hari wafatnya, 28 April. Jadi keduanya sama-sama mengenang penyair besar yang menjadi tonggak modernitas puisi Indonesia,” jelasnya.
Ia pun mengingatkan agar para penyair tidak menyikapi HPI dan HPN layaknya perbedaan politik.
“Jangan sampai lebih sibuk mengurus HPI atau HPN daripada menulis puisi. Tidak perlu terkurung dalam ‘kandang’ masing-masing. Mengikuti keduanya juga tidak haram,” ujarnya.
Ahmadun menambahkan, baik HPI maupun HPN telah diakui oleh Menteri Kebudayaan RI sebagai hari puisi milik bersama, yang patut dirayakan oleh seluruh penyair Indonesia.







