INDONESIA NEWS CHANEL _ SUKABUMI // Sabtu malam, 9 Agustus 2025, suasana Wewengkon Atikan Kampung Sukuraga, Babakan Jabon RT 04 RW 014, Kelurahan Sukakarya, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, berubah menjadi panggung budaya yang memukau. Bertajuk “Nyawang Bulan: Cinta Alam, Cinta Diri”, acara ini menghadirkan rangkaian kegiatan yang memadukan seni tradisional, edukasi, dan pesan cinta lingkungan.

Dibuka dengan Parade Gelar Seni Ngampar, pengunjung disuguhkan beragam pertunjukan seni tradisional yang sarat makna. Ada pembacaan puisi bulan yang penuh lirih romantis, pementasan karya dan ekspresi yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal, hingga edukasi budaya dan alam yang mengajak masyarakat kembali mencintai bumi dan menjaga kelestariannya.

Salah satu yang paling memikat adalah Persembahan Mahakarya Kolaboratif Sukuraga X Peradaban Sungai. Perpaduan antara gerak tubuh, musik tradisional, dan narasi sejarah sungai di Sukabumi menghadirkan pengalaman visual dan emosional yang sulit dilupakan.

Tak hanya menjadi ajang hiburan, kegiatan ini juga menjadi media edukasi yang dikemas oleh Sukabumi Stories untuk memperkenalkan Sukuraga, salah satu kesenian khas Sukabumi, kepada 35 mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Bisnis Seluruh Indonesia (IMBSI). Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia untuk merasakan langsung denyut budaya Sukabumi.

Selama kunjungan, para mahasiswa diajak menyusuri galeri Sukuraga, menyaksikan pertunjukan wayang yang sarat filosofi, hingga mencoba membuat batik khas Sukabumi. Setiap kegiatan membawa mereka semakin dekat dengan kekayaan seni dan tradisi setempat.

Momen kebersamaan terjalin hangat ketika para peserta berfoto bersama Kepala Dinas Kota Sukabumi, Dr. H. Punjul Saepul Hayat, dan Owner Sukuraga, Abah Effendi, yang selama ini konsisten menjaga serta mengembangkan kesenian ini. Turut hadir pula Mr. Dardjat Djatnika, S.Kom, pensiunan pilot maskapai dengan pengalaman terbang domestik dan internasional lebih dari 40 tahun, yang membagikan kisah inspiratif tentang hidup, perjalanan, dan kecintaan pada tanah kelahiran.

Bagi para mahasiswa, kegiatan ini bukan sekadar kunjungan, tetapi perjalanan batin yang memperkaya wawasan tentang budaya Indonesia. Sementara bagi masyarakat Sukabumi, acara ini menjadi bukti bahwa seni dan tradisi lokal dapat menjembatani perbedaan, menyatukan generasi, serta menjadi daya tarik yang memikat hati siapa saja yang datang.

“Cinta alam dan cinta diri adalah satu kesatuan. Dengan menjaga alam, kita menjaga kehidupan, dan dengan mengenal budaya, kita mengenal jati diri,” ujar salah satu seniman Sukuraga menutup acara

(Reporter _  Riad Alfahmi)