KOTA BOGOR – INDONESIA NEWS CHANEL – Gelombang efisiensi anggaran yang melanda berbagai kementerian dan lembaga pemerintah turut berdampak pada sektor literasi nasional. Salah satu yang paling disorot adalah pemangkasan anggaran Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) yang memicu perhatian publik setelah menjadi pembahasan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi X DPR RI.

Suasana Sarasehan ATPUSI di Galeri Perpustakaan dan Arsip Kota Bogor yang diikuti para pengelola perpustakaan sekolah se-Kota Bogor. (Foto: Herman Syahara).
Pemangkasan anggaran tersebut menjadi tantangan besar bagi pengembangan perpustakaan dan gerakan literasi di berbagai daerah. Namun di tengah keterbatasan tersebut, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Dispusipda) Kota Bogor memilih untuk tidak berdiam diri. Berbagai strategi kolaboratif terus dijalankan agar pelayanan perpustakaan dan program literasi tetap berlangsung.
Efisiensi Anggaran Berdampak pada Program Literasi Nasional
Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, sebelumnya menjelaskan bahwa berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 mengenai efisiensi belanja pemerintah, anggaran Perpusnas mengalami pengurangan yang cukup besar.
Dari pagu awal sebesar Rp721,68 miliar dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA), Perpusnas diminta melakukan efisiensi hingga Rp361,7 miliar, dengan pemotongan anggaran efektif mencapai sekitar Rp279,6 miliar.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap sejumlah program strategis nasional yang selama ini mendapat apresiasi masyarakat.
Salah satunya adalah program distribusi 1.000 buku beserta rak buku ke setiap desa, taman bacaan masyarakat (TBM), lembaga pemasyarakatan, hingga puskesmas yang sebelumnya berjalan pada periode 2024–2025.
Program yang dinilai berhasil meningkatkan akses masyarakat terhadap bahan bacaan itu terpaksa dihentikan pada tahun 2026 akibat keterbatasan anggaran.
Selain itu, bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik untuk pembangunan gedung perpustakaan, renovasi, hingga pengadaan mebel perpustakaan daerah juga tidak lagi dapat dilaksanakan.
Dispusipda Kota Bogor Pilih Bergerak, Bukan Mengeluh
Dampak efisiensi tersebut turut dirasakan oleh Dispusipda Kota Bogor.
Meski hanya berjarak sekitar 50 kilometer dari pusat pemerintahan nasional dan gedung Perpusnas RI di Jakarta, pengurangan bantuan anggaran dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah tetap memberikan tantangan tersendiri terhadap operasional perpustakaan.
Namun, kondisi tersebut tidak membuat Dispusipda Kota Bogor kehilangan semangat.
Dalam berbagai kesempatan, Kepala Bidang Arsip dan Perpustakaan Dispusipda Kota Bogor, Muhamad Yafis, bersama Pustakawan Ahli Muda Edy Suryanto, S.Sos., M.I.Kom., menegaskan bahwa pihaknya memilih mengembangkan strategi kolaboratif dibanding menghentikan berbagai program pelayanan masyarakat.
“Di era efisiensi ini, Dispusipda Kota Bogor mengutamakan kolaborasi dengan berbagai pihak sehingga kegiatan dapat terus berjalan,” ujar Muhamad Yafis.
Kolaborasi dilakukan dengan berbagai institusi pemerintah, dunia usaha, komunitas literasi, hingga sektor swasta.
Menurut Edy Suryanto, kebutuhan sarana dan prasarana perpustakaan kini banyak dipenuhi melalui kerja sama.
“Jika ada rak buku atau rak sepatu yang rusak, kami mengajukan bantuan kepada Bank Jabar maupun Pemerintah Kota Bogor,” jelasnya.
Tak hanya itu, pelaksanaan berbagai kegiatan juga dilakukan secara sederhana namun tetap berkualitas.
Untuk menekan biaya operasional, Dispusipda menggandeng sejumlah produsen minuman yang bersedia mendukung kegiatan melalui penyediaan konsumsi gratis sekaligus memperoleh kesempatan memperkenalkan produknya kepada peserta.
Sejumlah proposal kerja sama juga diajukan kepada berbagai instansi, termasuk Pegadaian, guna mendukung keberlangsungan berbagai program literasi.
Menolak “Mager”, Literasi Tetap Bergerak
Di tengah keterbatasan anggaran, Dispusipda Kota Bogor menunjukkan bahwa semangat literasi tidak boleh berhenti.
Sepanjang Juli 2026 saja, berbagai kegiatan berhasil diselenggarakan.
Di antaranya:
- Pelantikan Pengurus Paguyuban Duta Baca Kota Bogor Periode 2026–2028.
- Pelantikan dan Sarasehan Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Seluruh Indonesia (ATPUSI) Kota Bogor.
- Pengiriman enam Duta Baca Pelajar Kota Bogor dalam peringatan Hari Puisi Indonesia.
- Audiensi bersama Relawan Literasi Perpusnas RI Kota Bogor.
- Persiapan berbagai kegiatan literasi menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan anggaran tidak menghalangi pelayanan publik di bidang literasi.
ATPUSI Dorong Transformasi Perpustakaan Sekolah
Salah satu kegiatan yang mendapat perhatian besar adalah Sarasehan ATPUSI Kota Bogor yang mengangkat tema:
“Pustakawan Standar Nasional, Perpustakaan Sekolah Menuju Perpustakaan Berdampak.”
Kegiatan tersebut diikuti sekitar seratus peserta yang terdiri atas kepala sekolah, guru, pengelola perpustakaan, serta pegiat literasi.
Sejumlah narasumber hadir, di antaranya Kepala SDN Panaragan Kota Bogor Hilda Wachida Husein, S.Pd., Nia Kurniasih, S.Pd., serta Edy Suryanto.
Dalam sambutannya, Muhamad Yafis berharap perpustakaan sekolah mampu beradaptasi menghadapi perubahan zaman, termasuk perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Sementara itu, Edy Suryanto memberikan pemaparan mengenai tata kelola perpustakaan sesuai standar nasional yang ditetapkan Perpusnas RI.
Kolaborasi dengan Dinas Pendidikan Sangat Dibutuhkan
Ketua ATPUSI Kota Bogor periode 2026–2030, Drs. Tri Suharnowo, M.M., menegaskan bahwa transformasi perpustakaan tidak akan berhasil tanpa dukungan berbagai pihak.
Menurutnya, sinergi dengan Dinas Pendidikan Kota Bogor serta kepala sekolah menjadi faktor penting agar perpustakaan mampu berkembang menjadi pusat pembelajaran modern.
Ia juga mendorong seluruh pengelola perpustakaan meningkatkan kompetensi dalam menghadapi perkembangan teknologi digital, termasuk pemanfaatan Artificial Intelligence (AI).
Selain itu, perpustakaan sekolah didorong melakukan transformasi menuju sistem digital agar mampu menjawab kebutuhan generasi masa kini.
“Tanpa didukung oleh pimpinan dan kepala sekolah, apa yang kita harapkan mungkin tidak sepenuhnya bisa tercapai,” ujarnya.
Dukung Relawan Literasi dan Penambahan TBM
Dispusipda Kota Bogor juga terus membuka ruang kolaborasi dengan komunitas literasi.
Saat menerima audiensi Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Perpusnas RI Kota Bogor periode 2026–2027, Yuliyanti Basri, Muhamad Yafis menegaskan komitmennya meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM).
Ia juga berencana memperbanyak jumlah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Kota Bogor.
“Sebagai orang baru saya ingin lebih banyak turun ke lapangan dengan mengunjungi taman-taman bacaan masyarakat,” katanya.
Audiensi tersebut turut dihadiri Wahyu dari TBM SuperWah dan Fitriani dari TBM Putra Bangsa.
Dalam kesempatan itu, Dispusipda menerima proposal Festival Literasi Daerah Kota Bogor yang diajukan Relima Perpusnas RI.
Muhamad Yafis dan Edy Suryanto menyambut baik gagasan tersebut serta memberikan sejumlah masukan agar pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan program prioritas dan kemampuan dukungan Dispusipda Kota Bogor.
“Saya berharap Ibu Yuliyanti Basri sebagai Relima Perpusnas RI dari Kota Bogor dapat terus berkolaborasi dengan Dispusipda,” tutup Muhamad Yafis.
Di tengah tantangan efisiensi anggaran yang melanda sektor perpustakaan nasional, langkah Dispusipda Kota Bogor menunjukkan bahwa semangat membangun budaya baca tidak selalu bergantung pada besarnya anggaran. Melalui kolaborasi, inovasi, dan sinergi dengan berbagai pihak, gerakan literasi tetap dapat berjalan dan terus memberikan manfaat bagi masyarakat. (Herman Syahara)







