Bogor — INDONESIA NEWS CHANEL // Sejarah panjang berdirinya Masjid Jami’e Al-Isti’adah menjadi saksi bisu perjalanan dakwah dan perjuangan umat Islam di wilayah timur Kabupaten Bogor. Terletak di Jalan Raya Narogong KM 26, Kampung Dayeuh, Desa Dayeuh, Kecamatan Cileungsi, masjid ini berdiri kokoh bukan hanya sebagai rumah ibadah, tetapi juga sebagai pusat ilmu, kebersamaan, dan semangat perjuangan umat dari masa ke masa.
🕰️ Awal Mula: Musholla Bambu di Masa Penjajahan
Awalnya, Masjid Jami’e Al-Isti’adah hanyalah sebuah musholla sederhana berbentuk tajug panggung dari bambu, yang digunakan masyarakat sekitar bersama Mbah Haji Abdurrohman untuk menunaikan ibadah dan mengaji.
Pada masa itu, daerah sekitar masih berupa hamparan perkebunan — kebon dukuh, manggis, dan rambutan — yang sunyi namun penuh kehidupan spiritual.
Musholla kecil ini diyakini sebagai salah satu tempat ibadah tertua di Cileungsi, bahkan sudah ada sejak masa kolonial Belanda. Umat Islam di sekitarnya biasa melaksanakan salat Jumat di Masjid Al-Munawwar Dayeuh, karena Al-Isti’adah belum berstatus masjid saat itu.
🌿 Perkembangan Dakwah dan Kiprah Para Ulama
Setelah wafatnya Mbah Haji Abdurrohman, perjuangan dakwah diteruskan oleh Abah KH. Abdullah Rifa’i, seorang ulama yang penuh semangat dalam menghidupkan majelis ilmu. Beliau mengembangkan musholla menjadi pusat pengajian Al-Qur’an, tajwid, dan ilmu agama.
Masyarakat dari berbagai kampung — Cimanggung, Jalan Cagak, Pasar Meong, Babakan-Dayeuh, hingga Klapanunggal — datang untuk menimba ilmu. Karena banyak jamaah yang datang dari jauh, dibangunlah saung panggung bambu di belakang musholla sebagai tempat istirahat (kobong majelis).
Tak jarang para sepuh dan ulama dari berbagai daerah datang untuk berbagi ilmu, termasuk dari Sukabumi dan Wa Raden Naib Abdurrohman, yang turut memperkaya perjalanan keilmuan di Al-Isti’adah.
🧱 Renovasi dan Pengakuan dari Pemerintah
Tahun 1975 menjadi tonggak penting. Musholla bambu yang sederhana direnovasi total menjadi bangunan permanen dari tembok, berpindah ke area dekat pohon besar jambu bol (yang kini menjadi halaman depan masjid).
Keindahan dan semangat jamaahnya membuat Musholla Al-Isti’adah dinobatkan sebagai musholla terbaik oleh Pemerintah Kecamatan Cileungsi pada tahun tersebut — sebuah penghargaan yang menandai kuatnya peran masyarakat dalam memakmurkan rumah Allah.
🕌 Lahirnya Masjid Jami’e Al-Isti’adah
Seiring waktu, jamaah terus bertambah, dan kegiatan keagamaan semakin semarak. Ratusan orang hadir dalam setiap majelis pengajian. Melihat kebutuhan yang semakin besar, KH. Kholil Khoeruddin, satu tahun sebelum wafatnya Abah KH. Abdullah Rifa’i, menginisiasi pembangunan masjid yang lebih luas dan layak.
Dengan musyawarah para tokoh, sepuh, dan melalui istikharah, akhirnya pada tahun 1414 H / 1994 M berdirilah Masjid Jami’e Al-Isti’adah.

Peralihan status musholla menjadi masjid sempat diwarnai perbedaan pendapat. Bahkan sempat terjadi debat kitab di MTs. Al-Furqon, melibatkan tokoh-tokoh agama dari Bogor. Namun dengan keteguhan niat dan izin Allah SWT, pembangunan terus berjalan, didukung penuh oleh para ulama seperti KH. Ii Rohmatin, KH. M. Zainil Achyar, Wa H. Syarifuddin Rawa Singa, serta masyarakat sekitar yang setia membela perjuangan dakwah ini.
Nama-nama seperti Pak Guru Showi, Pak Sarbini, H. Anda, H. Muhtarudin, Wa Nasim, H. Sukanta, Wa Endih, Pak Sujitno, hingga Wa Raden Naib Abdurrohman tercatat sebagai bagian dari sejarah emas pembangunan masjid ini.
🌙 Istiqomah dalam Pengabdian Umat
Masjid Jami’e Al-Isti’adah terus berkembang menjadi pusat kegiatan keagamaan, sosial, ekonomi, dan budaya Islam. Renovasi besar dilakukan pada tahun 2016–2017, disertai penambahan sarana dan prasarana untuk kenyamanan jamaah.
Kini, masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tapi juga wadah pemberdayaan umat:
📖 Pengajian rutin bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda, dan anak-anak.
🕌 Majelis taklim dan kajian tafsir.
💞 Kegiatan sosial dan gotong royong masyarakat.
Di balik keanggunannya hari ini, Masjid Al-Isti’adah menyimpan pesan mendalam — bahwa perjuangan membangun umat tidak lahir dari kemewahan, tetapi dari keikhlasan dan kebersamaan.
“Masjid ini bukan sekadar bangunan, tetapi warisan perjuangan para ulama dan jamaah yang mencintai Allah dan Rasul-Nya,” ujar salah satu tokoh jamaah setempat.
Dari zaman penjajahan hingga era modern, semangat Al-Isti’adah terus hidup — menyalakan cahaya keimanan, menumbuhkan ukhuwah, dan mengajarkan makna sejati dari isti’adah: memohon perlindungan kepada Allah SWT dalam setiap langkah kehidupan.









