DEPOK – INDONESIA NEWS CHANEL | Di tengah suasana efisiensi anggaran yang melanda berbagai sektor pemerintahan, semangat pelestarian bahasa dan sastra Indonesia tetap menyala. Hal itu terlihat dalam kegiatan Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) 2026 yang digelar Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Senin (25/5/2026), di Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemendikdasmen, Depok, Jawa Barat.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Hafidz Muksin, secara simbolis menyerahkan Bantuan Pemerintah (Banpem) kepada sejumlah penerima apresiasi dari komunitas sastra dan pegiat kebahasaan. Salah satu penerima apresiasi itu adalah Yayasan Hari Puisi yang diwakili Ariany Isnamurti mewakili Ketua Yayasan Hari Puisi, Asrizal Nur.
Ariany Isnamurti atau yang akrab disapa Rinny menyampaikan bahwa penghargaan tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh pengurus dan tim Yayasan Hari Puisi dalam menjaga eksistensi sastra Indonesia.
“Apresiasi ini merupakan hasil kerja pengurus dan seluruh tim kerja,” ujarnya usai menerima penghargaan.
Menurut Rinny, bantuan yang diterima akan dimanfaatkan sesuai proposal yang telah diajukan kepada Badan Bahasa dan diintegrasikan dengan rangkaian peringatan Hari Puisi Indonesia (HPI) ke-14 yang akan digelar pada 26 Juli 2026 mendatang.
Meski kondisi efisiensi anggaran juga dirasakan oleh berbagai lembaga dan sponsor swasta, Yayasan Hari Puisi memastikan perayaan HPI tahun ini tetap berlangsung dengan khidmat dan bermakna.
“Perayaan HPI tahun ini akan dilakukan lebih sederhana tanpa mengurangi makna dan kekhidmatannya,” kata Rinny.
Ia menjelaskan, sejumlah agenda utama tetap dipertahankan, di antaranya pemberian Anugerah Penyair Adiluhung, pidato kebudayaan, pembacaan puisi oleh penyair nasional dan tokoh bangsa, hingga penampilan dari tiga kedutaan besar.
Selain itu, pihak yayasan juga tengah menyiapkan sejumlah agenda tambahan seperti talkshow sastra dan kegiatan kolaboratif bersama Jawa Pos Multimedia.
Festival Bahasa Daerah Tetap Meriah di Tengah Efisiensi
FTBIN 2026 menjadi bukti bahwa keterbatasan anggaran tidak mengurangi komitmen pemerintah dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah dan sastra nasional. Dengan konsep yang lebih sederhana namun tetap meriah, festival tersebut menghadirkan anak-anak dan remaja dari berbagai daerah di Indonesia sebagai generasi muda pelestari bahasa ibu.
Acara juga dihadiri 27 kepala daerah penerima penghargaan revitalisasi bahasa daerah, komunitas literasi, pegiat budaya, guru, hingga sastrawan dari berbagai wilayah.
Dalam sambutannya, Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin menegaskan bahwa festival tersebut merupakan momentum penting untuk memperkuat semangat pelestarian bahasa daerah sebagai identitas bangsa.
“Hari ini merupakan kebahagiaan bagi tunas-tunas muda dari seluruh wilayah Republik Indonesia. Mereka adalah pejuang pelestari bahasa daerah,” ujar Hafidz.
Menurutnya, keberhasilan revitalisasi bahasa daerah tidak dapat dilakukan pemerintah pusat semata, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh elemen, mulai dari pemerintah daerah, lembaga legislatif, komunitas budaya, guru, media, hingga masyarakat.
“Tanpa dukungan semua pihak, program pelestarian bahasa daerah tidak akan berhasil,” tegasnya.
Penguatan Bahasa Daerah Berbasis Teknologi
Dalam kesempatan itu, Hafidz juga menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam pelestarian bahasa daerah. Badan Bahasa bersama sejumlah daerah kini terus mengembangkan kamus digital dan platform bahasa berbasis teknologi yang dapat diakses masyarakat luas.
Beberapa daerah seperti Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Kalimantan Selatan disebut telah mulai mengembangkan sistem digitalisasi bahasa daerah yang mendukung penguatan data kebahasaan dan pengembangan teknologi kecerdasan artifisial (AI).
Selain itu, Kemendikdasmen bersama Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau juga terus memperkuat pengembangan kawasan budaya dan sejarah bahasa di Pulau Penyengat, yang dikenal sebagai pusat perkembangan bahasa Melayu dan cikal bakal bahasa Indonesia modern.
Hafidz menilai Pulau Penyengat memiliki nilai historis yang sangat penting dalam perjalanan bahasa Indonesia melalui karya-karya besar Raja Ali Haji, termasuk Gurindam Dua Belas.
Sebagai bentuk komitmen menjaga warisan tersebut, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau tengah membangun Museum dan Monumen Bahasa Nasional Indonesia di Pulau Penyengat yang ditargetkan rampung pada 2028, bertepatan dengan momentum 100 tahun Sumpah Pemuda.
“Bahasa daerah adalah identitas bangsa sekaligus aset luar biasa yang dimiliki Indonesia. Karena itu seluruh daerah memiliki tanggung jawab bersama untuk terus melestarikan dan mengembangkan bahasa daerah serta bahasa Indonesia,” tutup Hafidz. (HS)







