JAKARTA — INDONESIA NEWS CHANNEL I Program revitalisasi kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, diharapkan tidak hanya mempercantik wajah kawasan, tetapi juga tetap mempertahankan nilai kesejarahan,

keberagaman budaya, serta menghadirkan sentuhan modern yang relevan dengan generasi masa kini.
Benang merah tersebut mengemuka dalam acara Kick Off Revitalisasi Pasar Baru yang dikemas dalam mini talkshow bertajuk “Kick Off Wajah Baru Passer Baroe” di Ruang Galeri 2 Kantor Berita ANTARA, Jakarta.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Antara Heritage Center (AHC), Komunitas Wisata Kreatif Jakarta, unsur media, dan Pemerintah Daerah Jakarta. Sekitar 80 peserta hadir, didominasi kalangan Generasi Z.
Revitalisasi Pasar Baru dinilai harus tetap menjaga keaslian bangunan bersejarah sekaligus mengembangkan elemen ikonik yang instagramable dan berdampak ekonomi. Modernisasi pertokoan, penambahan tenant baru, serta penguatan peran pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi bagian penting dalam konsep pembaruan tersebut.


Sebelum talkshow dimulai, peserta disuguhi hiburan gitar tunggal Buzar dengan lagu-lagu easy listening serta tarian Betawi. Mereka juga diajak berkeliling Antara Heritage Center, menyaksikan koleksi benda-benda jurnalistik tempo dulu seperti mesin tik, mesin telex, sepeda lipat

wartawan, mesin cetak, hingga pameran foto human interest karya pewarta foto ANTARA, termasuk dokumentasi bencana banjir bandang di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.

Peserta turut mengunjungi Taman Langit dengan latar jam tua buatan 1917 serta ruang kerja Adam Malik—jurnalis sekaligus salah satu pendiri Kantor Berita ANTARA yang kemudian menjabat Wakil Presiden RI.

Program Director acara, Toton Hutomi, menyampaikan bahwa kegiatan ini didedikasikan untuk menyambut program revitalisasi kawasan Cagar Budaya Pasar Baru yang menjadi agenda Pemda Jakarta.
“Bukan mustahil Pasar Baru akan seramai dan seviral Blok M setelah direvitalisasi,” ujar Toton, Sabtu (7/2).
Founder Wisata Kreatif Jakarta, Ira Lathief, menilai Pasar Baru berpotensi menjelma menjadi kawasan ikonik seperti Blok M bahkan Myeongdong di Seoul, Korea Selatan. Menurutnya,

Pasar Baru perlu mengubah citra dari kawasan yang sepi menjadi ruang kreatif yang hidup, dengan menghadirkan kafe, kuliner viral, tenant baru, serta ruang publik yang ramah bagi anak muda.
“Pasar Baru harus punya spot ikonis yang instagramable agar menarik Gen Z yang aktif di media sosial,” tegas Ira. Ia juga mengusulkan konsep kegiatan kreatif jalanan, seperti fashion street show, guna memperkuat identitas kawasan.

Selain aspek kekinian, keberagaman budaya yang telah berakar ratusan tahun di Pasar Baru harus tetap dipelihara. Kawasan ini sejak lama dikenal sebagai ruang pertemuan berbagai etnis—pribumi, Eropa, India, Tionghoa, dan Arab—yang hidup berdampingan secara harmonis.
Sementara itu, Sofie Prameswari dari AHC menegaskan pentingnya menjaga bangunan bersejarah seperti Gedung Kantor Berita ANTARA, yang menjadi tempat pertama kali Proklamasi Kemerdekaan RI disiarkan ke dunia internasional. Gedung berarsitektur kolonial Belanda tersebut kini berusia 109 tahun dan termasuk bangunan cagar budaya kelas A.
Revitalisasi Pasar Baru sendiri ditargetkan mulai 2026. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menyatakan kawasan ini akan dikembangkan secara terpadu bersama Lapangan Banteng, Gedung Kesenian Jakarta, dan Kantor Pos Besar. Konsep bebas kendaraan serta pengembangan kawasan kuliner malam ala Penang, Malaysia, juga menjadi bagian dari gagasan pembaruan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan bekerja sama dengan Kementerian Keuangan serta sektor perhotelan guna menghadirkan paket wisata terpadu yang menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Dengan perpaduan antara pelestarian sejarah, penguatan keberagaman budaya, dan inovasi kreatif, Pasar Baru diharapkan kembali bangkit sebagai destinasi wisata belanja dan budaya yang hidup, dinamis, dan relevan di era modern. /HS