Indonesia News Chanel // Jakarta. Monumen Nasional (Monas) Jakarta menjadi saksi bisu lantunan bait-bait puisi penuh makna. Ratusan penyair dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand hadir dalam rangkaian Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIII, yang berlangsung pada 11–14 September 2025.
Suasana semakin khidmat ketika para penyair membacakan karya-karya mereka di ruang terbuka Taman Monas Utara, tepat di depan patung Chairil Anwar—ikon penyair Angkatan ’45—yang berdiri tegak memandang hijaunya pepohonan ibu kota.
Acara ini bukan hanya sekadar festival sastra, tetapi juga ruang silaturahmi batin dan pikiran, di mana puisi menjadi jembatan persaudaraan lintas bangsa.
Penampilan Laskar Literasi dari Bogor
Dari puluhan penyair Indonesia yang tampil, salah satu yang menyita perhatian adalah Yuliyanti Basri, akrab disapa Julia Basri, Laskar Relawan Literasi Perpusnas RI asal Kota/Kabupaten Bogor. Dengan gaya teatrikal, ia membawakan puisinya sambil mengenakan ikat kepala bermotif Kalimantan Utara, mengibar-ngibarkan ulos Batak, dan memamerkan rompi hijau Relima berlogo Perpusnas RI.
“Pertemuan Penyair Nusantara ke-13 ini bukan hanya perhelatan seni, tetapi perjamuan kata yang merekatkan hati penyair lintas negeri,” ungkap Julia.
Puisi Perdamaian: Mejikuhibiniu
Salah satu karya Julia Basri yang lolos seleksi dan dimuat dalam Antologi PPN XIII berjudul Mejikuhibiniu. Dengan vokal bulat padat, Julia melantunkan puisinya yang mengangkat simbol pelangi sebagai mantra perdamaian.
Dalam larik-lariknya, ia menyerukan bahwa perbedaan bukanlah pangkal perang, melainkan nada-nada yang menunggu disusun menjadi simfoni persaudaraan.
Jembatan Persaudaraan Lewat Sastra
Selama empat hari perhelatan, para penyair menikmati beragam agenda: seminar sastra, musikalisasi puisi, hingga wisata ke puncak Monas. Semua rangkaian itu semakin menegaskan Jakarta sebagai rumah pertemuan budaya dan literasi regional.
Tak hanya meneguhkan peran puisi sebagai media ekspresi, PPN XIII juga memperlihatkan bahwa sastra dapat menjadi jembatan perdamaian di tengah perbedaan bangsa, agama, dan budaya.
Laporan: Herman Syahara | Indonesia News Chanel







