BOGOR – INDONESIA NEWS CHANEL | Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor terus menyiapkan pengembangan sarana transportasi untuk memperkuat konektivitas antarwilayah. Selain mengkaji kereta gantung di kawasan Puncak, Pemkab Bogor juga menyiapkan rencana pengembangan jalur kereta api di wilayah Bogor Barat, dengan dua alternatif trase, yakni Tenjo-Jasinga dan Parung Panjang-Jasinga.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika, mengatakan pengembangan berbagai moda transportasi tersebut merupakan bagian dari arahan Bupati Bogor Rudy Susmanto untuk membangun sistem transportasi yang terintegrasi dan mampu menjangkau berbagai wilayah.
Menurut Ajat, pembangunan transportasi tidak hanya bertujuan mengurai kepadatan lalu lintas, tetapi juga membuka akses baru serta mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah yang membutuhkan penguatan konektivitas.
“Pengembangan transportasi ini merupakan bagian dari upaya membangun konektivitas antarwilayah. Jadi bukan hanya di Puncak, tetapi juga bagaimana wilayah Bogor Barat memiliki dukungan transportasi massal melalui rencana kereta Tenjo-Jasinga,” kata Ajat.
Dua Alternatif Jalur Kereta Bogor Barat
Berdasarkan dokumen rencana pengembangan infrastruktur transportasi berbasis rel Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor, terdapat dua alternatif trase yang disiapkan untuk melayani kawasan Bogor Barat.
Alternatif pertama adalah trase Tenjo-Jasinga sepanjang sekitar 18,6 kilometer dengan tiga titik stasiun. Jalur tersebut dirancang melintasi Kecamatan Tenjo dan Jasinga, dengan sejumlah titik yang direncanakan berada di kawasan Tenjo, Kampung Singabraja, Pangaur hingga Jasinga.
Sementara alternatif kedua, Parung Panjang-Jasinga, memiliki panjang sekitar 26,5 kilometer dengan enam titik stasiun. Jalur ini dirancang melintasi wilayah Parung Panjang, Rumpin, Cigudeg, Jasinga dan Tenjo.
Pengembangan jalur kereta tersebut diarahkan untuk melayani pergerakan komuter sekaligus mendukung aglomerasi wilayah. Jalur ini diproyeksikan menjadi pengumpan atau feeder menuju Stasiun Tenjo maupun Parung Panjang, sehingga masyarakat Bogor Barat dapat terhubung dengan jaringan KRL Commuter Line Jabodetabek.
Parung Panjang-Jasinga Lebih Direkomendasikan
Kawasan yang menjadi sasaran pengembangan memiliki karakter tata guna lahan yang beragam, mulai dari permukiman, pertanian, perkebunan, kawasan industri hingga ruang terbuka hijau.
Wilayah Jasinga, Tenjo dan Parung Panjang juga tercatat memiliki pertumbuhan penduduk sekitar 0,91 persen, sehingga kebutuhan terhadap konektivitas transportasi massal dinilai semakin penting.
Ajat mengatakan, keberadaan jalur kereta diharapkan menjadi salah satu pilihan transportasi masyarakat Bogor Barat sekaligus memperkuat konektivitas kawasan dengan jaringan transportasi yang lebih luas.
“Prinsipnya, kita ingin transportasi menjadi bagian dari pengembangan wilayah. Ketika konektivitasnya semakin baik, mobilitas masyarakat meningkat, pusat-pusat ekonomi baru tumbuh dan manfaat pembangunan bisa dirasakan lebih merata,” ujarnya.
Hasil kajian awal Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bapperida) Kabupaten Bogor pada 2025 bahkan lebih merekomendasikan trase Parung Panjang-Jasinga untuk dikembangkan setelah mempertimbangkan 15 kriteria dari aspek teknis, ekonomi, sosial dan lingkungan.
Dalam kajian tersebut, trase Parung Panjang-Jasinga dirancang menggunakan konstruksi at grade atau berada di permukaan tanah dengan jenis rel heavy rail.
Panjang trase berdasarkan kajian teknis mencapai sekitar 27,26 kilometer, dengan enam stasiun baru dan satu stasiun eksisting di Parung Panjang.
Waktu tempuh kereta diproyeksikan sekitar 24 menit. Jalur tersebut juga direncanakan memiliki enam perlintasan sebidang dan 17 jembatan.
Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan TOD
Pengembangan jalur kereta Bogor Barat juga sejalan dengan rencana pengembangan kawasan Parung Panjang sebagai pusat pelayanan kawasan dan Transit Oriented Development (TOD).
Sementara itu, wilayah Tenjo diarahkan untuk mendukung pengembangan stasiun barang sekaligus memperkuat konektivitas jaringan antarkota dan perkotaan.
Dengan konsep tersebut, pembangunan jalur kereta tidak hanya dipandang sebagai proyek transportasi, tetapi juga sebagai bagian dari strategi pengembangan wilayah dan pemerataan ekonomi Kabupaten Bogor.
Masih Membutuhkan Kajian Komprehensif
Ajat menegaskan, pengembangan transportasi harus disiapkan secara terintegrasi dengan moda lainnya, termasuk angkutan umum yang telah beroperasi serta rencana pengembangan transportasi berbasis listrik.
Karena itu, setiap rencana pembangunan sarana transportasi masih membutuhkan kajian komprehensif yang mencakup trase, kapasitas, keselamatan, tata ruang, kebutuhan lahan, dampak lingkungan, integrasi antarmoda hingga kelayakan investasi.
Dokumen Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor membagi pelaksanaan rencana tersebut ke dalam empat tahapan.
Tahap awal meliputi pra-studi kelayakan, penentuan trase indikatif dan konsultasi publik. Tahapan kemudian dilanjutkan dengan studi kelayakan komprehensif, analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL), serta penyusunan desain awal.
Tahap berikutnya mencakup penyusunan Detail Engineering Design (DED), pembebasan lahan dan pencarian skema pendanaan. Setelah itu, proyek dapat memasuki tahap konstruksi fisik, pengadaan sarana kereta, uji coba terbatas hingga operasional penuh.
“Semua harus dikaji secara komprehensif. Arahan Bupati adalah bagaimana kita menyiapkan transportasi yang tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga menjadi fondasi pengembangan Kabupaten Bogor ke depan,” kata Ajat.
Rencana pengembangan jalur kereta Bogor Barat diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat konektivitas, memperluas akses masyarakat terhadap transportasi massal, sekaligus membuka peluang tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru di wilayah barat Kabupaten Bogor.







