JAKARTA – INDONESIA NEWS CHANEL I Yayasan Hari Puisi Indonesia kembali menggelar perayaan Hari Puisi Indonesia ke-14 pada 26 Juli 2026. Perayaan tahun ini menjadi momentum istimewa karena merupakan tahun pertama setelah Hari Puisi Indonesia resmi ditetapkan sebagai agenda kebudayaan negara berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kebudayaan Nomor 161 Tahun 2025 tentang Hari Puisi Indonesia.

Panitia Hari Puisi Indonesia berpose bersama Menteri Kebudayaan Fadli Zon

saat beraudiensi usai acara Hari Sastra ,

2 Juli, di Gedung Utama Kemendikdasmen Jakarta. (Foto YHP)

 

Dalam rangkaian perayaan tersebut, Menteri Kebudayaan Fadli Zon dijadwalkan hadir dan menyampaikan orasi budaya. Kehadiran Menteri Kebudayaan menjadi bagian penting dalam perayaan Hari Puisi Indonesia, yang kini tidak hanya menjadi agenda komunitas sastra, tetapi telah memperoleh pengakuan sebagai bagian dari kalender kebudayaan nasional.

Berdasarkan susunan acara yang disampaikan Panitia Pelaksana Hari Puisi Indonesia 2026, kegiatan tersebut akan berlangsung di Gedung A Kemendikdasmen, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Minggu (26/7/2026), mulai pukul 14.00 hingga 17.30 WIB.

Perayaan Hari Puisi Indonesia tahun ini menghadirkan panggung yang mempertemukan berbagai tokoh dari lintas generasi, disiplin ilmu, profesi, kepakaran, serta penyair dari berbagai negara.

Sejumlah tokoh yang dijadwalkan tampil di antaranya Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Ekuador untuk Indonesia Luis Guillermo Arellano Jibaja, pegiat seni budaya religi Neno Warisman, novelis sekaligus penyair Helvy Tiana Rosa, penyair yang juga Staf Ahli Menteri Nissa Rengganis, penyair Hasan Aspahani, peneliti BRIN Sastri Sunarti Sweeney, serta istri Wakil Gubernur Provinsi Maluku, Hj. Rohani Vanath.

Dari kalangan generasi sandwich dan generasi Z, panggung Hari Puisi Indonesia akan menampilkan Duta Baca Kota Bogor Tiara Ratna dan Fahri Hidayatullah.

Sementara itu, dari kalangan anak-anak akan hadir penari cilik Shakira dan Fakheera. Adapun dari generasi yang lebih senior, akan tampil kritikus sastra sekaligus feminis Prof. Soenardjati Djajanegara dan penyair LK Ara. Keduanya diketahui telah berusia di atas 90 tahun.

Selain itu, Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, juga dijadwalkan turut hadir dalam perayaan tersebut.

Tidak hanya menghadirkan tokoh dari dalam negeri, perayaan Hari Puisi Indonesia ke-14 juga akan memperluas jejaring apresiasi sastra melalui ucapan Selamat Hari Puisi Indonesia yang disampaikan sejumlah penyair mancanegara melalui rekaman video.

Para penyair tersebut berasal dari berbagai negara, di antaranya Amerika Serikat, India, Serbia, Kroasia, Yunani, Bangladesh, Beirut, Bulgaria, Nigeria, hingga Puerto Rico.

Keberagaman tokoh yang terlibat menjadi salah satu keunikan tersendiri dalam perayaan Hari Puisi Indonesia tahun ini. Wakil Ketua Yayasan Hari Puisi Indonesia, Danny, yang memberikan sambutan mewakili Ketua Yayasan Hari Puisi Indonesia Asrizal Nur yang berhalangan hadir karena gangguan kesehatan, menyebut perayaan tahun ini menjadi momentum bersejarah.

Menurut Danny, setelah 13 tahun perjalanan penyelenggaraan Hari Puisi Indonesia, untuk pertama kalinya panggung perayaan menghadirkan kolaborasi besar yang mempertemukan lintas usia dan generasi, lintas disiplin ilmu dan kepakaran, lintas profesi, hingga penyair dari berbagai negara.

“Hari ini adalah hari yang istimewa bagi kita semua,” katanya.

Danny menjelaskan, perjalanan Yayasan Hari Puisi Indonesia dalam memperjuangkan pengakuan terhadap Hari Puisi Indonesia telah berlangsung selama 13 tahun.

Perjuangan tersebut, menurutnya, bukan semata-mata untuk kepentingan yayasan, melainkan merupakan bagian dari upaya untuk memuliakan puisi sebagai salah satu mahkota kebudayaan bangsa Indonesia.

“Selama tiga belas tahun kami mengetuk banyak pintu, berdialog, berdiskusi, agar negara memberikan pengakuan kepada Hari Puisi Indonesia. Alhamdulillah, pada 26 Juli 2025, tepat satu tahun yang lalu, cita-cita itu terwujud melalui penetapan Hari Puisi Indonesia oleh Bapak Fadli Zon selaku Menteri Kebudayaan,” ungkap Danny.

Dengan ditetapkannya Hari Puisi Indonesia sebagai bagian dari kalender kebudayaan nasional, Danny menegaskan bahwa Hari Puisi Indonesia kini bukan lagi hanya menjadi milik Yayasan Hari Puisi Indonesia, tetapi telah menjadi milik seluruh rakyat Indonesia.

Karena itu, perayaan Hari Puisi Indonesia ke depan diharapkan tidak hanya diselenggarakan oleh Yayasan Hari Puisi Indonesia, tetapi juga dapat dirayakan bersama oleh berbagai komunitas sastra, sekolah, perguruan tinggi, sanggar budaya, perpustakaan, hingga masyarakat di lingkungan pemerintah daerah, kelurahan, desa, bahkan tingkat RT dan RW.

Mengusung Tema “Menebalkan Makna pada Segala”

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Hari Puisi Indonesia 2026, Ariyani Isnamurti, dalam laporan acara menyampaikan bahwa perayaan Hari Puisi Indonesia tahun ini mengusung tema utama “Menebalkan Makna pada Segala”.

Tema tersebut, kata Ariyani, mengajak masyarakat untuk kembali merenungkan hakikat puisi. Puisi tidak semata-mata lahir dari rangkaian kata-kata indah yang mendayu, tetapi juga tumbuh dari keberanian manusia dalam mencerna, membaca, dan memberikan makna terhadap kehidupan sehari-hari.

Menurut Ariyani, di tengah derasnya arus informasi pada era digital dan perubahan yang berlangsung begitu cepat, masyarakat sering kali tidak memiliki cukup waktu untuk memilah dan memilih informasi yang benar-benar bermanfaat.

Di tengah kondisi tersebut, puisi hadir sebagai ruang untuk kembali mendengarkan suara hati, merawat nurani, serta mengokohkan nilai kemanusiaan, kearifan, dan keberagaman.

“Puisi mengingatkan kita bahwa di balik setiap peristiwa selalu ada pesan dan nilai yang layak direnungkan, dirawat, dan diwariskan,” ujarnya.

Namun, perayaan Hari Puisi Indonesia tahun ini digelar dalam suasana yang lebih sederhana. Kondisi tersebut tidak terlepas dari keterbatasan sumber daya, termasuk minimnya anggaran dan dukungan sponsor.

Keterbatasan tersebut berdampak pada sejumlah agenda rutin yang selama ini menjadi bagian dari perayaan Hari Puisi Indonesia. Salah satunya adalah ditiadakannya sayembara buku antologi puisi yang selama ini cukup diminati para penyair.

Sayembara tersebut sebelumnya menyediakan total hadiah sebesar Rp100 juta untuk lima orang pemenang.

Selain itu, kegiatan “Open Mike” Panggung Puisi Rakyat, yang biasanya menjadi ruang bagi para penyair untuk tampil dan membacakan karya-karyanya, juga tidak diselenggarakan pada perayaan tahun ini.

Meski demikian, panitia tetap mempertahankan salah satu agenda unggulan, yakni Anugerah Penyair Adiluhung. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan atau lifetime achievement kepada penyair yang dinilai memiliki dedikasi serta kesungguhan dalam perjalanan berkarya dan memajukan dunia kepenyairan Indonesia.

Panitia juga melakukan pembatasan jumlah undangan. Tahun ini, jumlah peserta dibatasi tidak lebih dari 150 orang, termasuk panitia dan kalangan internal.

Durasi penyelenggaraan juga dipersingkat. Jika sebelumnya rangkaian acara dapat berlangsung hingga tiga hari, tahun ini seluruh rangkaian utama dirancang berlangsung sekitar tiga jam.

Namun, Ariyani menegaskan bahwa berbagai keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat panitia untuk tetap menyelenggarakan perayaan Hari Puisi Indonesia.

Sebaliknya, keterbatasan tersebut dijadikan tantangan sekaligus peluang untuk melahirkan kreativitas dan kolaborasi agar semangat Hari Puisi Indonesia tetap menyala serta memberikan dampak positif sebagai ruang apresiasi dan silaturahmi kreatif bagi para penyair Indonesia.

“Kami bertungkus lumus agar Hari Puisi Indonesia tetap terselenggara karena sejak 13 tahun lalu acara ini telah menjadi salah satu pemantik spirit kepenyairan Indonesia,” tandasnya.

Ariyani juga menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas dukungan yang diberikan Kementerian Kebudayaan sehingga perayaan Hari Puisi Indonesia tahun ini tetap dapat digelar.

Menurutnya, dana bantuan yang diterima digunakan dengan sangat hati-hati, ketat, dan selektif karena jumlahnya masih jauh dari kebutuhan penyelenggaraan acara.

“Lebih dari separuh bantuan itu kami utamakan untuk hadiah kepada pemenang Anugerah Penyair Adiluhung dan sisanya kami mengupayakan cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, sewa peralatan, dan jasa lainnya,” katanya.

Berharap Dukungan Pemerintah Semakin Diperkuat

Ke depan, Yayasan Hari Puisi Indonesia berharap pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dapat memberikan dukungan moral dan material yang lebih memadai.

Dukungan tersebut dinilai penting agar Yayasan Hari Puisi Indonesia dapat berperan lebih aktif dalam melibatkan para penyair dan sastrawan dalam berbagai program pemajuan kebudayaan yang dicanangkan pemerintah.

Ariyani berharap, dengan dukungan yang lebih kuat, Yayasan Hari Puisi Indonesia dapat berjalan berdampingan dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan lainnya untuk memberikan apresiasi serta penghargaan kepada lebih banyak penyair dan sastrawan yang berprestasi.

Selain itu, dukungan tersebut juga diharapkan dapat membuka ruang bagi penyelenggaraan berbagai program kebudayaan dan kesastraan, seperti pelatihan penulisan puisi, seminar puisi, penerjemahan karya puisi, hingga kembali menghidupkan sayembara penulisan antologi puisi yang telah dirintis sejak 13 tahun lalu.

” Dengan dukungan lebih memadai yang diberikan pemerintah, kami berharap dapat bahu membahu bersama pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dalam memberikan apresiasi dan penghargaan kepada lebih banyak lagi penyair dan sastrawan yang berprestasi. Selain itu, kami berharap dapat menyelenggarakan program pelatihan penulisan puisi, seminar puisi, penerjemahan puisi, dan kembali dapat menyelenggarakan sayembara penulisan antologi puisi yang telah dirintis sejak 13 tahun lalu,” papar Ariyani.

Perayaan Hari Puisi Indonesia ke-14 tahun 2026 pada akhirnya tidak hanya menjadi ruang pertemuan para penyair dan pecinta sastra. Momentum ini juga menjadi penanda perjalanan panjang perjuangan memuliakan puisi sebagai bagian penting dari kebudayaan Indonesia.

Dengan hadirnya Menteri Kebudayaan Fadli Zon untuk menyampaikan orasi budaya, keterlibatan tokoh lintas generasi dan lintas profesi, serta partisipasi penyair dari berbagai negara, Hari Puisi Indonesia diharapkan semakin memperkuat posisi puisi sebagai ruang refleksi, kritik, ekspresi, dan penjaga nilai-nilai kemanusiaan.

Terlebih setelah Hari Puisi Indonesia ditetapkan sebagai agenda kebudayaan negara, tanggung jawab untuk menjaga keberlanjutan dan mengembangkan tradisi kepenyairan Indonesia tidak lagi hanya berada di tangan komunitas sastra.

Hari Puisi Indonesia kini menjadi bagian dari tanggung jawab bersama untuk merawat kebudayaan, memperkuat literasi, dan memastikan bahwa puisi tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Sebab, di balik kata-kata yang dirangkai menjadi puisi, terdapat suara zaman, rekaman perjalanan bangsa, serta nilai-nilai kemanusiaan yang perlu terus dirawat, direnungkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya