JAKARTA | INDONESIA NEWS CHANEL — Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI), Sujahri Somar, mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Ajakan tersebut disampaikan Sujahri saat menghadiri sekaligus memberikan sambutan dalam forum Obrolan Teras 13 yang mengangkat tema “Evaluasi 2 Tahun Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka”, Kamis (27/8/2026).

Dalam forum tersebut, Sujahri menyoroti dua persoalan strategis yang dinilainya perlu mendapat perhatian serius pemerintah, yakni kesiapan negara dalam menghadapi bencana serta potensi disintegrasi bangsa.

Menurutnya, kedua persoalan tersebut memiliki keterkaitan erat dengan kemampuan negara dalam memberikan perlindungan, keadilan, dan rasa aman kepada seluruh masyarakat.

Negara Harus Hadir Sebelum Bencana
Sujahri menilai penanganan bencana di Indonesia tidak boleh hanya bersifat reaktif atau dilakukan setelah bencana terjadi. Ia menekankan pentingnya penguatan mitigasi, kesiapsiagaan,

perlindungan lingkungan, serta sistem tanggap darurat yang terintegrasi.
“Negara tidak boleh hanya hadir setelah bencana terjadi. Negara harus hadir sebelum bencana itu datang, melalui mitigasi yang kuat, kesiapan yang matang, dan kebijakan yang mampu melindungi rakyat serta ruang hidupnya,” kata Sujahri dalam keterangannya, Jumat (28/8/2026).

Ia secara khusus menyinggung penanganan gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) serta ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia yang menurutnya membutuhkan perhatian serius dan berkelanjutan.
Meski demikian, Sujahri mengapresiasi rencana pemerintah meningkatkan anggaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjadi sekitar Rp1,003 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.

Menurutnya, peningkatan anggaran tersebut merupakan sinyal positif bagi penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana secara nasional.
“Kami mengapresiasi langkah pemerintah yang menaikkan anggaran BNPB hingga menembus angka Rp1,003 triliun pada RAPBN 2027. Ini adalah komitmen nyata yang memang kita tunggu agar penguatan mitigasi, kesiapsiagaan di daerah, perlindungan lingkungan, serta sarana tanggap bencana dapat berjalan secara optimal dan merata,” ujarnya.

Ingatkan Potensi Disintegrasi
Selain persoalan kebencanaan, Sujahri juga mengingatkan pemerintah agar serius membaca berbagai dinamika sosial dan politik di sejumlah wilayah, termasuk Maluku, Papua, Aceh, dan Kalimantan.

Ia menilai persoalan disintegrasi tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan dapat dipicu oleh ketidakadilan, ketimpangan pembangunan, serta minimnya ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi.

“Persoalan disintegrasi tidak muncul dari ruang hampa. Ketika masyarakat merasa jauh dari keadilan, ketika pembangunan tidak dirasakan secara merata, dan ketika suara rakyat tidak didengar, maka di situlah negara harus hadir untuk melakukan koreksi,” tegas Sujahri.

Menurutnya, menjaga keutuhan Indonesia tidak cukup hanya melalui seruan persatuan. Persatuan harus dibangun melalui keadilan sosial, pemerataan pembangunan, dan kehadiran negara yang nyata di tengah masyarakat.

“Jaga Indonesia” Harus Menjadi Agenda Bersama
Sujahri menegaskan, semangat “Jaga Indonesia” harus ditempatkan sebagai agenda bersama dan tidak berhenti sebagai slogan.
Baginya, menjaga Indonesia berarti memastikan setiap warga negara mendapatkan perlindungan, setiap daerah memperoleh perhatian yang adil, serta setiap persoalan kebangsaan diselesaikan dengan mengedepankan persatuan dan keadilan.”Jaga Indonesia bukan hanya menjaga batas wilayah dan keutuhan teritorial, tetapi juga menjaga rasa keadilan, menjaga kepercayaan rakyat, dan memastikan tidak ada daerah maupun kelompok masyarakat yang merasa ditinggalkan oleh negara. Kalau itu kita jaga, maka persatuan Indonesia juga akan semakin kuat,” ujar Sujahri.

Ia juga mendorong pemerintah melakukan apa yang disebutnya sebagai “belanja masalah”, yakni turun langsung ke berbagai daerah untuk mendengar dan memahami persoalan masyarakat secara nyata.”Jangan hanya melihat Indonesia dari Jakarta. Datangi rakyat di Maluku, Papua, Aceh, Kalimantan, NTT dan seluruh daerah lainnya. Dengarkan persoalan mereka dan jawab dengan kebijakan yang berkeadilan,” katanya.

Sujahri kembali mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama Jaga Indonesia, dengan memastikan masyarakat terlindungi dari ancaman bencana, lingkungan tetap terpelihara, serta tidak ada kelompok masyarakat maupun daerah yang merasa ditinggalkan negara.

Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian penting dalam mencegah tumbuhnya kekecewaan sosial yang berpotensi mengganggu persatuan dan keutuhan bangsa.
Forum Menjadi Ruang Refleksi Kebangsaan
Sementara itu, Penanggung Jawab Obrolan Teras 13, Sudi Simarmata, mengatakan forum tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus wadah untuk mendorong evaluasi dan gagasan konstruktif terhadap berbagai persoalan kebangsaan.

“Penguatan mitigasi bencana, keadilan sosial dan dialog antardaerah merupakan bagian penting dalam menjaga persatuan serta menghadapi tantangan Indonesia ke depan,” tandasnya.
(Red)