JAKARTA — INDONESIA NEWS CHANEL | Perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) ke-14 akan kembali digelar pada Minggu, 26 Juli 2026. Tahun ini, panggung HPI menghadirkan sejumlah tokoh lintas generasi, profesi, disiplin ilmu, hingga penyair dari berbagai negara.

Berdasarkan susunan acara, Menteri Kebudayaan Fadli Zon dijadwalkan menyampaikan orasi budaya dalam perayaan yang berlangsung di Gedung A Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, pukul 14.00–17.30 WIB.

Sejumlah tokoh yang dijadwalkan tampil antara lain Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Ekuador untuk Indonesia Luis Guillermo Arellano Jibaja, pegiat seni budaya religi Neno Warisman, novelis sekaligus penyair Helvy Tiana Rosa, penyair yang juga Staf Ahli Menteri Nissa Rengganis, penyair Hasan Aspahani, peneliti BRIN Sastri Sunarti Sweeney, serta Hj. Rohani Vanath, istri Wakil Gubernur Maluku.

Dari kalangan generasi muda, hadir Duta Baca Kota Bogor Tiara Ratna dan Fahri Hidayatullah. Panggung juga akan dimeriahkan penari cilik Shakira dan Fakheera.

Sementara dari generasi senior, tampil kritikus sastra sekaligus feminis Prof. Soenardjati Djajanegara dan penyair LK Ara yang keduanya telah berusia di atas 90 tahun. Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, juga dijadwalkan hadir.

Tidak hanya dari dalam negeri, ucapan Selamat Hari Puisi Indonesia juga akan disampaikan sejumlah penyair mancanegara melalui rekaman video. Mereka berasal dari Amerika Serikat, India, Serbia, Kroasia, Yunani, Bangladesh, Beirut, Bulgaria, Nigeria, dan Puerto Rico.

Panggung Kolaborasi Lintas Generasi

Wakil Ketua Yayasan Hari Puisi, Danny, yang menyampaikan sambutan mewakili Ketua Yayasan Hari Puisi Asrizal Nur yang berhalangan hadir karena kondisi kesehatan, menyebut perayaan tahun ini memiliki keunikan tersendiri.

Menurutnya, sejak penyelenggaraan Hari Puisi Indonesia 13 tahun lalu, baru kali ini panggung perayaan menjadi ruang kolaborasi lintas usia dan generasi, lintas disiplin ilmu dan kepakaran, lintas profesi, serta lintas negara.

“Hari ini adalah hari yang istimewa bagi kita semua,” ujar Danny.

Ia menjelaskan, perjuangan Yayasan Hari Puisi selama 13 tahun bukan semata untuk kepentingan organisasi, melainkan untuk memuliakan puisi sebagai salah satu mahkota kebudayaan bangsa.

“Selama tiga belas tahun kami mengetuk banyak pintu, berdialog, berdiskusi, agar negara memberikan pengakuan kepada Hari Puisi Indonesia. Alhamdulillah, pada 26 Juli 2025, tepat satu tahun lalu, cita-cita itu terwujud melalui penetapan Hari Puisi Indonesia oleh Bapak Fadli Zon selaku Menteri Kebudayaan,” ungkapnya.

Sejak masuk dalam kalender kebudayaan nasional, kata Danny, Hari Puisi Indonesia tidak lagi menjadi milik Yayasan Hari Puisi semata, melainkan menjadi milik seluruh rakyat Indonesia.

Karena itu, perayaannya diharapkan tidak hanya diselenggarakan oleh yayasan, tetapi juga dirayakan bersama komunitas sastra, sekolah, kampus, sanggar budaya, perpustakaan, hingga masyarakat di lingkungan pemerintah daerah, kelurahan, desa, RT, dan RW.

Mengusung Tema “Menebalkan Makna pada Segala”

Ketua Panitia Pelaksana Hari Puisi Indonesia 2026, Ariyani Isnamurti, mengatakan perayaan tahun ini mengusung tema “Menebalkan Makna pada Segala.”

Tema tersebut mengajak masyarakat kembali merenungkan hakikat puisi. Puisi, menurut Ariyani, tidak sekadar lahir dari rangkaian kata-kata indah, tetapi juga dari keberanian membaca, mencerna, dan memberi makna terhadap kehidupan sehari-hari.

Di tengah derasnya arus informasi digital dan perubahan yang berlangsung cepat, puisi dinilai dapat menjadi ruang untuk mendengar suara hati, merawat nurani, sekaligus memperkokoh nilai kemanusiaan, kearifan, dan keberagaman.

“Puisi mengingatkan kita bahwa di balik setiap peristiwa selalu ada pesan dan nilai yang layak direnungkan, dirawat, dan diwariskan,” ujarnya.

Digelar Sederhana di Tengah Keterbatasan

Ariyani mengungkapkan, perayaan Hari Puisi Indonesia 2026 digelar dalam suasana lebih sederhana akibat keterbatasan sumber daya, termasuk minimnya anggaran dan dukungan sponsor.

Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah agenda rutin harus ditiadakan. Salah satunya sayembara buku antologi puisi yang selama ini menjadi salah satu program ikonik dan diminati para penyair. Sayembara tersebut membutuhkan hadiah total sekitar Rp100 juta untuk lima pemenang.

Agenda “Open Mike” Panggung Puisi Rakyat, yang biasanya dipadati penyair untuk membacakan karya, juga tidak diselenggarakan tahun ini.

Meski demikian, panitia tetap mempertahankan agenda unggulan berupa Anugerah Penyair Adiluhung, penghargaan semacam lifetime achievement yang diberikan kepada penyair atas dedikasi dan konsistensinya dalam berkarya.

Panitia juga membatasi jumlah undangan maksimal 150 orang, termasuk panitia dan kalangan internal. Durasi acara yang sebelumnya berlangsung selama tiga hari dipadatkan menjadi sekitar tiga jam.

Menurut Ariyani, keterbatasan tersebut justru menjadi tantangan sekaligus peluang untuk menghadirkan kreativitas dan kolaborasi agar semangat Hari Puisi Indonesia tetap menyala.

“Kami bertungkus lumus agar Hari Puisi Indonesia tetap terselenggara karena sejak 13 tahun lalu acara ini telah menjadi salah satu pemantik spirit kepenyairan Indonesia,” tandasnya.

Berharap Dukungan Pemerintah Lebih Besar

Ariyani menyampaikan apresiasi atas bantuan Kementerian Kebudayaan yang memungkinkan perayaan Hari Puisi Indonesia 2026 tetap terlaksana.

Dana bantuan tersebut, kata dia, digunakan secara hati-hati, ketat, dan selektif karena masih jauh dari kebutuhan ideal penyelenggaraan acara.

“Lebih dari separuh bantuan itu kami utamakan untuk hadiah kepada pemenang Anugerah Penyair Adiluhung dan sisanya kami upayakan cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, sewa peralatan, dan jasa lainnya,” katanya.

Ke depan, Ariyani berharap pemerintah dan para pemangku kepentingan dapat memberikan dukungan moral maupun material yang lebih memadai kepada Yayasan Hari Puisi.

Dukungan tersebut diharapkan dapat memperluas peran penyair dan sastrawan dalam berbagai program pemajuan kebudayaan, sekaligus memperbanyak ruang apresiasi bagi para pelaku sastra.

“Kami berharap dapat bahu-membahu bersama pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dalam memberikan apresiasi dan penghargaan kepada lebih banyak lagi penyair dan sastrawan yang berprestasi,” paparnya.

Selain itu, Yayasan Hari Puisi berharap dapat kembali mengembangkan berbagai program, seperti pelatihan penulisan puisi, seminar puisi, penerjemahan karya puisi, hingga penyelenggaraan kembali sayembara penulisan antologi puisi yang telah dirintis sejak 13 tahun lalu.