Gunungkidul – INDONESIA NEWS CHANEL I Kisah mengharukan datang dari sebuah keluarga sederhana di wilayah Girisekar, Kabupaten Gunungkidul. Seorang bocah laki-laki berinisial F (9) terpaksa menghentikan sekolahnya selama tiga tahun demi merawat sang ibu yang sakit parah hingga mengalami kelumpuhan.
Kisah pilu bocah tersebut menjadi viral di media sosial setelah diunggah oleh akun Instagram @pantaujogjakarta. Unggahan itu mendapat perhatian luas dari masyarakat dengan puluhan ribu tanda suka serta ribuan komentar yang berisi simpati dan doa bagi keluarga F.
Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul langsung bergerak cepat. Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, bersama jajaran pemerintah daerah mendatangi langsung kediaman F pada Minggu (15/3/2026) untuk memastikan kondisi keluarga tersebut sekaligus memberikan bantuan.
Dalam keterangannya, Endah menyayangkan kondisi seperti ini baru diketahui setelah viral di media sosial. Ia meminta seluruh masyarakat, mulai dari tingkat RT, perangkat desa hingga aparat pemerintah, agar lebih peka terhadap kondisi sosial di lingkungan masing-masing.
“Kejadian seperti ini tidak perlu menunggu sampai tiga tahun atau bahkan satu bulan. Ini kewajiban kita sebagai sesama manusia untuk saling membantu,” ujar Endah.
Terpaksa Berhenti Sekolah Demi Orang Tua
Berdasarkan keterangan pemerintah daerah, F terpaksa berhenti sekolah karena harus merawat ibunya yang menderita stroke disertai gangguan saraf mata yang menyebabkan sang ibu tidak dapat melihat dan beraktivitas.
Kondisi keluarga semakin berat karena ayah F juga mulai mengalami gangguan penglihatan sejak satu tahun terakhir. Dalam situasi tersebut, F akhirnya memilih tinggal di rumah untuk menjaga kedua orang tuanya.
Sementara itu, kakak perempuan F berinisial A masih melanjutkan pendidikan di salah satu SMP Negeri di Gunungkidul.
Menurut Bupati Endah, pemerintah telah berkoordinasi dengan berbagai pihak agar pendidikan F dapat kembali dilanjutkan.
“Untuk pendidikan F akan ditangani oleh Kementerian Agama melalui pendekatan emosional yang baik, karena F sebelumnya menempuh pendidikan di madrasah,” jelas Endah.
Pemerintah Pastikan Pendidikan dan Kesehatan Terpenuhi
Selain memastikan F dapat kembali bersekolah, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul juga memberikan perhatian terhadap kondisi kesehatan kedua orang tua bocah tersebut. Dinas Kesehatan setempat telah melakukan pemeriksaan medis dan menindaklanjuti hasil laboratorium untuk menentukan langkah penanganan yang tepat.
Endah menegaskan bahwa upaya mengembalikan F ke sekolah tidak bisa dilakukan dengan paksaan, karena anak tersebut lebih memikirkan kondisi orang tuanya.
“Tidak boleh anak ini dipaksa sekolah jika orang tuanya belum ada yang merawat. Yang dia butuhkan adalah jaminan bahwa orang tuanya ada yang bertanggung jawab,” tegasnya.
Upaya Membantu Ekonomi Keluarga
F sebenarnya memiliki kakak tertua yang saat ini bekerja di wilayah Sleman. Namun karena bekerja di luar daerah, sang kakak tidak dapat membantu merawat orang tua mereka setiap hari.
Untuk membantu keberlangsungan ekonomi keluarga, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul juga menggandeng Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) guna memberikan dukungan modal usaha kepada kakak tertua F agar dapat bekerja lebih dekat dengan rumah.
Selain itu, pemerintah memastikan keluarga tersebut telah menerima berbagai bantuan sosial, di antaranya Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), serta layanan kesehatan melalui BPJS.
Kisah F menjadi pengingat bahwa masih banyak keluarga di pelosok daerah yang membutuhkan perhatian dan kepedulian bersama, agar tidak ada lagi anak Indonesia yang harus mengorbankan masa depan pendidikannya demi menghadapi kesulitan hidup sendirian.







