Bogor — Indonesia News Channel // Tingginya minat baca warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 2A Paledang Bogor menjadi sorotan penting dalam kunjungan Relawan Literasi Masyarakat (Relima) dari Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas), Yuliyanti Basri, Rabu (30/7/2025). Namun, semangat literasi ini tidak sepenuhnya didukung oleh fasilitas dan sumber daya manusia yang memadai, baik di lingkungan Lapas maupun di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Gereja Zeboth, Kota Bogor.

Dalam kunjungan tersebut, Yuliyanti Basri didampingi pengelola perpustakaan Lapas, Yadin, dan diterima oleh Humas Lapas, Ade Januarsyah. Ia juga meninjau langsung kondisi TBM Gereja Zeboth bersama salah satu staf gereja, Chris.

Menurut Ade Januarsyah, perpustakaan Lapas diresmikan pada tahun 2024. Sebelumnya, perpustakaan hanya berupa aula seadanya, namun kini telah dipindahkan ke bekas gudang seluas sekitar 3 x 5 meter yang ditata menjadi ruang baca sederhana namun bersih dan teratur.

“Minat baca warga binaan cukup tinggi. Rata-rata ada 50 orang per hari yang meminjam buku,” ujarnya.

Namun, karena keterbatasan ruang, pihak Lapas tidak bisa menyediakan meja dan kursi baca. Warga binaan diperbolehkan membawa buku ke dalam sel atau membaca di teras perpustakaan. Koleksi buku saat ini berjumlah sekitar 100 eksemplar berbagai tema, seperti sastra, pengetahuan umum, dan agama.

“Jika mendapatkan bantuan buku dan rak dari Perpusnas, kami bingung akan menaruhnya di mana. Ruang sangat terbatas, dan memperluas bangunan hampir mustahil,” ungkap Yadin, petugas perpustakaan.

Koordinasi untuk permohonan bantuan buku pun harus dilakukan melalui Ditjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM, yang menjadi perantara ke Perpusnas.

Berbeda dengan Lapas, TBM Gereja Zeboth justru memiliki fasilitas memadai dan telah menerima bantuan 1.000 buku serta rak dari Perpusnas. Namun, bantuan itu belum dimanfaatkan karena keterbatasan sumber daya manusia.

“Kami memang sudah menerima bantuan, tapi belum bisa memanfaatkannya karena tidak ada yang mengelola,” kata Chris, staf Gereja Zeboth yang mendampingi Yuliyanti dalam kunjungan.

Buku-buku masih tersimpan dalam kardus berlogo Perpusnas di dalam ruangan perpustakaan yang cukup luas dan tertata, lengkap dengan ruang bermain anak. Sayangnya, ruang baca ini jarang dibuka karena lokasi berada di kawasan Ring 1 Istana Kepresidenan Bogor, yang aksesnya cukup terbatas bagi publik. Perpustakaan hanya aktif saat kegiatan ibadah pada akhir pekan.

“Kami masih berkoordinasi dengan pengurus gereja lainnya. Bila memang tidak bisa dimanfaatkan, sebaiknya buku-buku ini diberikan kepada pihak lain yang lebih membutuhkan,” ujarnya.

Sebagai bagian dari tugasnya sebagai Relawan Literasi Masyarakat, Yuliyanti Basri menyatakan bahwa temuan ini akan disampaikan langsung ke Perpusnas RI agar dapat dicarikan solusi yang tepat.

“Saya berharap kendala yang dihadapi kedua perpustakaan ini dapat segera diatasi, sehingga semangat literasi di kalangan warga binaan dan masyarakat tetap hidup dan berkembang,” tutup Yuliyanti.