TAMANSARI, KABUPATEN BOGOR — INDONESIA NEWS CHANEL — Gema sholawat dan lantunan seni musik Islami menyemarakkan Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Sabtu (10/10/2026). Melalui kegiatan “Tamansari Bersholawat” dalam Parade Istimewa Seni Musik Islam DPK LASQI Kecamatan Tamansari, delapan desa menampilkan potensi terbaiknya dalam lomba kasidah sebagai upaya memperkuat syiar Islam, mempererat silaturahmi, serta melestarikan seni musik religi di tengah masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Kecamatan Tamansari ini menjadi momentum bersejarah bagi pengembangan organisasi Lembaga Seni dan Qasidah Indonesia (LASQI) di tingkat kecamatan dan desa. Selain menjadi ajang kompetisi, parade tersebut menjadi ruang pembinaan bagi kelompok kasidah untuk mengembangkan kemampuan vokal, kekompakan, kreativitas, dan kualitas musikal dalam membawakan lagu-lagu Islami.

Semangat para peserta yang tampil mewakili wilayah masing-masing menghadirkan suasana penuh kebersamaan. Setiap kelompok berusaha menunjukkan kemampuan terbaik melalui perpaduan vokal, irama musik, penampilan panggung, serta penghayatan terhadap pesan-pesan keagamaan yang disampaikan melalui seni.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa seni musik Islam bukan sekadar hiburan, melainkan juga media dakwah yang mampu menyampaikan nilai-nilai kebaikan, menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, dan menjaga tradisi Islami agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Neneng: Parade Istimewa Menjadi Langkah Awal Pengembangan LASQI di Delapan Desa

Ketua DPK LASQI Kecamatan Tamansari, Neneng, mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya Parade Istimewa Seni Musik Islam yang untuk pertama kalinya dilaksanakan di wilayah Kecamatan Tamansari.
Menurut Neneng, kegiatan tersebut merupakan bagian dari amanah organisasi untuk memperluas pembinaan seni musik Islam sekaligus memperkuat keberadaan LASQI hingga tingkat desa.
“Alhamdulillah, hari ini menjadi momentum perdana bagi kami di Kecamatan Tamansari untuk menyelenggarakan Parade Istimewa Seni Musik Islam. Kami berupaya menghadirkan peserta dari seluruh desa agar potensi seni kasidah dan musik Islami di wilayah Tamansari dapat berkembang bersama,” ungkap Neneng.
Delapan desa yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut meliputi Desa Pasireurih, Sirnagalih, Sukajadi, Sukajaya, Sukaluyu, Sukamantri, Sukaresmi, dan Tamansari.
Keterlibatan perwakilan dari delapan desa itu menjadi gambaran tumbuhnya semangat masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan seni religi. Setiap kelompok hadir membawa identitas, kekompakan, dan harapan untuk memberikan penampilan terbaik di hadapan dewan juri.
Neneng menjelaskan, amanah yang diberikan oleh Ketua DPD LASQI Kabupaten Bogor, Hj. Ajeng Umaroh, S.Pd.I., menjadi tanggung jawab yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Ia berharap pembinaan LASQI tidak berhenti pada penyelenggaraan perlombaan, tetapi berlanjut melalui kegiatan latihan, pembentukan kelompok seni, serta regenerasi anggota agar seni musik Islami semakin berkembang di seluruh desa.
Bagi Neneng, Parade Istimewa bukan semata-mata ajang memperebutkan piala. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana mempererat persaudaraan, memperluas silaturahmi, meningkatkan pengalaman, dan membangun semangat berprestasi melalui kegiatan positif yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Apresiasi Dukungan Pemerintah Kecamatan dan Tokoh Agama

Neneng menyampaikan apresiasi kepada Camat Tamansari beserta seluruh jajaran yang telah memberikan dukungan dan memfasilitasi penggunaan Aula Kecamatan Tamansari sebagai lokasi kegiatan.
Menurutnya, dukungan pemerintah kecamatan menjadi bagian penting dalam mendorong terselenggaranya kegiatan keagamaan, kebudayaan, dan pembinaan masyarakat.
Ia juga mengapresiasi dukungan unsur Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Tamansari serta seluruh pihak yang ikut berkontribusi dalam menyukseskan parade tersebut.
Kehadiran Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Tamansari, KH. Muhamad Tata Badudrin, sebagai tamu kehormatan turut memberikan makna tersendiri bagi kegiatan yang mengedepankan syiar Islam melalui seni dan budaya.
Kolaborasi antara pengurus LASQI, pemerintah kecamatan, tokoh agama, peserta, dan masyarakat diharapkan menjadi fondasi kuat bagi keberlanjutan program pembinaan seni musik Islami.
“Terima kasih kepada Bapak Camat Tamansari beserta seluruh jajaran yang telah mendukung dan memberikan ruang bagi kami untuk menyelenggarakan Parade Istimewa di aula kecamatan. Dukungan ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus mengembangkan LASQI dan kegiatan seni musik Islam,” tutur Neneng.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta dari delapan desa serta jajaran pengurus DPD LASQI Kabupaten Bogor yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan, khususnya dalam proses penjurian.
Hj. Ajeng Umaroh, S.Pd.I.: Penjurian Vokal Harus Profesional dan Objektif

Ketua DPD LASQI Kabupaten Bogor, Hj. Ajeng Umaroh, S.Pd.I., yang turut bertugas sebagai juri vokal, menekankan pentingnya penilaian yang profesional, objektif, dan berintegritas dalam sebuah kompetisi seni musik Islam.
Penilaian vokal memperhatikan sejumlah aspek, antara lain kualitas suara, teknik bernyanyi, ketepatan nada, artikulasi, penghayatan lagu, serta kemampuan peserta membawakan lagu secara utuh dan meyakinkan.
Menurutnya, setiap unsur tersebut memiliki peran penting dalam menentukan kualitas penampilan. Vokal yang baik bukan hanya terdengar merdu, melainkan juga membutuhkan penguasaan teknik, ketepatan melodi, penghayatan terhadap isi lagu, serta kemampuan menyampaikan pesan kepada pendengar.
Melalui sistem penjurian yang berpedoman pada kriteria penilaian, kompetisi diharapkan dapat berlangsung secara adil dan menjadi sarana evaluasi bagi setiap kelompok untuk terus meningkatkan kualitasnya.
Pembinaan yang berkesinambungan juga diharapkan mampu melahirkan generasi yang memiliki kemampuan seni vokal Islami, berkarakter, dan berkontribusi dalam melestarikan seni musik religi.
Nining Suning: Penampilan Panggung Harus Menarik, Kompak, dan Berkarakter

Nining Suning, Bendahara DPD LASQI Kabupaten Bogor yang bertugas sebagai juri penampilan, menilai bahwa kualitas sebuah pertunjukan tidak hanya ditentukan oleh suara, tetapi juga oleh kemampuan peserta menghidupkan suasana di atas panggung.
Aspek penampilan mencakup ekspresi, penghayatan lagu, penguasaan panggung, keserasian busana, kreativitas, kekompakan kelompok, serta kemampuan menyajikan pertunjukan yang menarik tanpa meninggalkan karakter seni musik Islami.
Menurut Nining, perpaduan unsur tersebut dapat memperkuat pesan yang disampaikan melalui lagu dan memberikan pengalaman yang lebih berkesan kepada penonton.
Ia berharap peserta menjadikan proses penjurian sebagai kesempatan untuk mengevaluasi diri, mengembangkan kreativitas, serta meningkatkan rasa percaya diri.
Dengan demikian, setiap kelompok tidak hanya mengejar kemenangan, tetapi juga belajar membangun kualitas pertunjukan yang lebih baik, disiplin dalam berlatih, dan saling menghargai sesama peserta.
Maryan Putri Pasundan: Dinamika Musik Menjadi Kunci Harmonisasi Instrumental

Maryan Putri Pasundan, yang akrab disapa Bubun dan dikenal sebagai Putri Pasundan, bertugas sebagai juri instrumental dengan perhatian pada dinamika musik, keselarasan irama, dan kualitas aransemen.
Dalam penilaian instrumental, sejumlah unsur penting diperhatikan, mulai dari ketepatan tempo, kestabilan irama, teknik permainan alat musik, kekompakan antarpemain, hingga kemampuan mengatur dinamika keras dan lembut sesuai karakter lagu.
Keselarasan antara vokal dan instrumen juga menjadi bagian penting dalam menghasilkan pertunjukan yang harmonis. Musik pengiring yang dimainkan secara tepat dapat memperkuat suasana lagu, mendukung penghayatan penyanyi, dan menjadikan penampilan lebih hidup.
Menurut perspektif penjurian instrumental, penguasaan teknik perlu diimbangi dengan kepekaan musikal dan kemampuan menjaga keseimbangan antarinstrumen.
Melalui kompetisi yang sehat dan proses evaluasi yang membangun, para peserta diharapkan semakin terampil, kreatif, serta mampu meningkatkan kualitas musik kasidah tanpa meninggalkan ciri khas seni musik Islam.
Kolaborasi antara dewan juri dari DPD LASQI Kabupaten Bogor dan pengurus DPK LASQI Kecamatan Tamansari menjadi bagian penting dalam mendukung pelaksanaan kegiatan, mulai dari pembinaan peserta hingga proses penilaian.
Qasidah Nurul Hidayah Desa Tamansari Raih Juara Pertama
Setelah seluruh peserta menampilkan kemampuan terbaiknya, kegiatan Parade Istimewa Seni Musik Islam DPK LASQI Kecamatan Tamansari ditutup dengan pengumuman hasil perlombaan dan penyerahan piala kepada para pemenang.
Berdasarkan hasil yang disampaikan panitia, berikut kelompok yang berhasil meraih tiga posisi terbaik dalam lomba kasidah:
Juara I — Qasidah Nurul Hidayah, Desa Tamansari
Kelompok Qasidah Nurul Hidayah dari Desa Tamansari berhasil meraih posisi pertama dalam kompetisi tersebut. Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi kelompok dan masyarakat desa yang diwakilinya.
Juara II — Qasidah BKMT Nurul Hidayah, Desa Tamansari
Posisi kedua diraih oleh Qasidah BKMT Nurul Hidayah dari Desa Tamansari. Capaian tersebut menjadi bentuk apresiasi atas partisipasi dan kemampuan kelompok dalam menampilkan seni musik Islami.
Juara III — Grup Qasidah Muslimat, Desa Sukamantri
Sementara itu, juara ketiga diraih oleh Grup Qasidah Muslimat dari Desa Sukamantri. Prestasi ini diharapkan menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan, kekompakan, dan kualitas penampilan pada kesempatan berikutnya.
Penyerahan piala kepada para pemenang dilakukan oleh Ketua MUI Kecamatan Tamansari, KH. Muhamad Tata Badudrin, didampingi Ketua DPD LASQI Kabupaten Bogor, Hj. Ajeng Umaroh, S.Pd.I.
Momen penyerahan penghargaan tersebut menjadi penutup yang penuh makna. Bagi para pemenang, piala merupakan bentuk apresiasi atas usaha dan penampilan yang telah diberikan. Sementara bagi kelompok yang belum meraih juara, pengalaman mengikuti kompetisi menjadi bekal berharga untuk terus belajar dan berkembang.
Hj. Ajeng Umaroh: Menang dan Kalah Sama-Sama Berjuang
Dalam kesempatan tersebut, Hj. Ajeng Umaroh, S.Pd.I., memberikan motivasi kepada seluruh peserta agar tetap menjunjung tinggi sportivitas dan tidak menjadikan hasil perlombaan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Menurutnya, setiap kelompok yang berani tampil telah melalui proses persiapan, latihan, dan perjuangan untuk memberikan penampilan terbaik. Karena itu, seluruh peserta patut menghargai usaha yang telah dilakukan, baik mereka yang meraih juara maupun yang belum memperoleh penghargaan.
“Menang dan kalah adalah bagian dari sebuah perlombaan. Yang terpenting, kita semua sudah berjuang, berani tampil, dan memberikan yang terbaik. Jadikan pengalaman ini sebagai motivasi untuk terus belajar, berkarya, dan melestarikan seni musik Islam,” demikian pesan motivasi yang disampaikan dalam semangat pembinaan peserta.
Ia berharap peserta yang meraih juara tidak cepat berpuas diri, melainkan terus meningkatkan kemampuan dan mempertahankan semangat berlatih. Adapun peserta yang belum berhasil diharapkan tidak berkecil hati karena masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki kekurangan dan meraih prestasi pada masa mendatang.
Menurutnya, kompetisi seni musik Islam memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar perebutan gelar juara. Kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran, pembentukan karakter, penguatan kepercayaan diri, serta sarana mempererat ukhuwah Islamiyah.
Semangat inilah yang diharapkan terus tumbuh di lingkungan LASQI, sehingga setiap perlombaan dapat melahirkan peserta yang tidak hanya terampil dalam berkesenian, tetapi juga menjunjung nilai kebersamaan, kedisiplinan, dan akhlak mulia.
Tamansari Bersholawat, Merawat Tradisi dan Melahirkan Generasi Berprestasi
Parade Istimewa Seni Musik Islam DPK LASQI Kecamatan Tamansari menjadi salah satu langkah untuk memperkuat eksistensi LASQI dalam pembinaan dan pengembangan seni musik Islami di Kabupaten Bogor.
Keterlibatan delapan desa menunjukkan pentingnya membuka ruang partisipasi masyarakat agar tradisi kasidah dan seni religi terus berkembang dari tingkat desa hingga kecamatan.
Melalui kegiatan seperti ini, seni musik Islam dapat menjadi media dakwah yang dekat dengan kehidupan masyarakat, sekaligus sarana memperkenalkan nilai-nilai keislaman kepada generasi muda melalui pendekatan seni dan budaya.
Ke depan, pembinaan yang berkelanjutan diharapkan dapat memperluas keterlibatan kelompok kasidah, meningkatkan kualitas penampilan, dan mendorong munculnya bibit-bibit berprestasi yang siap mengikuti kompetisi pada tingkat lebih tinggi.
Dukungan pemerintah kecamatan, tokoh agama, pengurus LASQI, dewan juri, peserta, dan masyarakat menjadi modal penting untuk menjaga keberlangsungan kegiatan tersebut.
Bagi DPK LASQI Kecamatan Tamansari, keberhasilan parade tidak hanya tercermin dari siapa yang membawa pulang piala, tetapi juga dari tumbuhnya semangat kebersamaan, semakin kuatnya organisasi, serta meningkatnya kecintaan masyarakat terhadap seni musik Islam.
Tamansari Bersholawat bukan sekadar lantunan pujian kepada Rasulullah SAW. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ikhtiar bersama untuk memperkuat syiar Islam, merawat tradisi, mempererat persaudaraan, dan melahirkan generasi yang berprestasi serta berakhlak mulia.
INDONESIA NEWS CHANEL
Penulis: Bawongso
Editor: Tim Redaksi Indonesia News Chanel
Tanggal publikasi: 10 Oktober 2026







